Dampak Fitur Likes yang Disembunyikan terhadap Validasi Diri: Sebuah Revolusi Kesehatan Mental?


Dalam ekosistem media sosial, angka likes telah lama menjadi mata uang sosial yang menentukan status, popularitas, dan bahkan harga diri seseorang. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, platform besar seperti Instagram dan Facebook melakukan eksperimen radikal: menyembunyikan jumlah likes dari pandangan publik. Kebijakan ini memicu perdebatan luas di kalangan pengguna, pemasar, dan psikolog. Apakah langkah ini benar-benar membantu mengurangi tekanan sosial, atau justru menciptakan bentuk kecemasan baru?

Memahami dampak fitur likes yang disembunyikan terhadap validasi diri sangat penting di tengah meningkatnya isu kesehatan mental di era digital. Artikel ini akan mengupas bagaimana perubahan kecil pada antarmuka pengguna (UI) dapat mengubah cara kita memandang diri sendiri.

Evolusi Validasi Diri di Ruang Digital
Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk diterima dan diakui oleh kelompoknya. Di masa lalu, validasi ini didapat melalui interaksi tatap muka, pujian verbal, atau pencapaian nyata. Namun, kehadiran media sosial menggeser parameter tersebut ke dalam bentuk metrik kuantitatif.

Likes menjadi bentuk Micro-Validation atau validasi mikro. Setiap kali seseorang mendapatkan tombol jempol atau hati, otak melepaskan dopamin, menciptakan sensasi penghargaan instan. Masalah muncul ketika individu mulai menggantungkan seluruh harga diri mereka pada angka-angka tersebut. Ketika jumlah likes rendah, seseorang sering kali merasa tidak berharga, tidak menarik, atau diabaikan oleh lingkungan sosialnya.

Mengapa Platform Menyembunyikan Likes?

Tujuan utama di balik kebijakan menyembunyikan jumlah likes adalah untuk "mendepolitisasi" ruang siber dan mengurangi elemen kompetisi yang beracun. Pihak pengembang aplikasi ingin pengguna lebih fokus pada kualitas konten dan koneksi antarmanusia daripada sekadar mengejar angka. Dengan menghilangkan angka publik, diharapkan pengguna tidak lagi merasa malu jika unggahan mereka tidak mendapatkan banyak perhatian secara statistik.

Dampak Positif: Mengurangi Perbandingan Sosial
Salah satu dampak paling signifikan dari penyembunyian fitur likes adalah berkurangnya dorongan untuk melakukan perbandingan sosial ke atas (upward social comparison).

1. Menurunkan Kecemasan Sosial
Tanpa angka likes yang terpampang nyata di unggahan orang lain, pengguna tidak lagi secara otomatis membandingkan performa konten mereka dengan orang lain. Ini membantu mengurangi perasaan "tidak cukup baik" yang sering muncul saat melihat unggahan teman atau publik figur yang mendapatkan ribuan likes.

2. Mendorong Kreativitas yang Lebih Autentik
Banyak pengguna media sosial terjebak dalam pola mengunggah konten hanya demi mendapatkan likes. Dengan disembunyikannya metrik tersebut, muncul kebebasan untuk mengunggah apa pun yang benar-benar mereka sukai. Validasi diri bergeser dari "apa yang disukai orang lain" menjadi "apa yang membuat saya merasa puas."

Sering kali, orang memberikan likes pada sebuah unggahan hanya karena unggahan tersebut sudah memiliki banyak likes. Dengan menyembunyikan angka tersebut, interaksi menjadi lebih organik. Pengguna memberikan apresiasi karena mereka benar-benar menyukai kontennya, bukan karena mengikuti arus.

Dampak Negatif: Tantangan Baru dalam Validasi
Meskipun berniat baik, penyembunyian likes juga membawa dampak psikologis yang kompleks, terutama bagi mereka yang sudah sangat terikat dengan validasi digital.

1. Ketidakpastian dan Rasa Insecure
Bagi sebagian orang, melihat angka likes adalah cara untuk mengukur posisi mereka dalam lingkungan sosial. Ketika angka tersebut hilang, muncul ketidakpastian. Pengguna mungkin tetap bisa melihat jumlah likes mereka sendiri secara pribadi, namun ketiadaan perbandingan publik terkadang membuat mereka merasa "buta" akan standar kesuksesan sosial yang berlaku.

2. Pergeseran ke Metrik Lain yang Lebih Berbahaya
Manusia yang haus akan validasi cenderung mencari indikator lain jika satu indikator dihilangkan. Ketika likes disembunyikan, fokus pengguna mungkin beralih ke jumlah pengikut (followers) atau jumlah komentar. Hal ini bisa lebih berbahaya karena komentar sering kali bersifat subjektif dan bisa berupa kritik tajam yang justru lebih merusak kesehatan mental dibandingkan sekadar angka likes yang rendah.

3. Dampak bagi Kreator dan Influencer
Bagi mereka yang menjadikan media sosial sebagai mata pencaharian, likes adalah indikator kinerja yang krusial. Penyembunyian likes dapat menciptakan stres tambahan terkait bagaimana mereka membuktikan nilai mereka kepada mitra bisnis atau pengiklan. Keharusan untuk terus memantau metrik internal secara obsesif dapat memicu kelelahan mental atau burnout.


Validasi Diri yang Sehat di Era Pasca-Likes
Menyembunyikan likes hanyalah sebuah alat, bukan solusi akhir bagi kesehatan mental. Kunci utama tetap berada pada bagaimana individu membangun struktur harga diri dari dalam (internal) daripada luar (eksternal).

Penting untuk menyadari bahwa validasi dari media sosial bersifat semu dan sementara. Untuk membangun harga diri yang stabil, seseorang perlu memiliki kegiatan di dunia nyata yang memberikan rasa kompetensi, seperti hobi, olahraga, atau kontribusi sosial. Ketika kita merasa berdaya di dunia nyata, angka di layar ponsel tidak akan lagi memiliki kekuatan untuk mendikte suasana hati kita.


Kesimpulan
Langkah media sosial menyembunyikan jumlah likes adalah eksperimen sosial besar-besaran yang menunjukkan bahwa industri teknologi mulai peduli pada kesejahteraan psikologis penggunanya. Secara umum, kebijakan ini berhasil mengurangi tekanan kompetitif dan kecemasan sosial, memberikan ruang bagi validasi diri yang lebih autentik.

Namun, kita tidak boleh lupa bahwa teknologi hanyalah cermin dari perilaku manusia. Selama kita masih mencari persetujuan orang lain untuk merasa berharga, kita akan selalu menemukan cara untuk terobsesi pada angka. Transformasi yang sesungguhnya harus datang dari kesadaran pengguna untuk memisahkan antara nilai diri dan performa digital.