Parasocial Relationships: Bahaya Terlalu Terikat Secara Emosional dengan Influencer


Dalam satu dekade terakhir, cara kita berinteraksi dengan orang lain telah mengalami pergeseran paradigma yang masif. Melalui layar ponsel, kita bisa melihat apa yang dimakan oleh selebriti favorit kita, mengikuti rutinitas pagi seorang influencer, hingga mendengar keluh kesah pribadi seorang YouTuber. Tanpa disadari, banyak dari kita mulai merasa "mengenal" mereka secara pribadi. Fenomena psikologis inilah yang disebut sebagai Parasocial Relationships atau hubungan parasosial.

Meskipun hubungan ini tampak tidak berbahaya di permukaan, keterikatan emosional yang terlalu dalam dengan sosok yang sebenarnya tidak mengenal kita dapat membawa dampak serius bagi kesehatan mental dan kehidupan sosial di dunia nyata.

Apa Itu Hubungan Parasosial?
Istilah hubungan parasosial pertama kali dicetuskan oleh sosiolog Donald Horton dan Richard Wohl pada tahun 1956. Fenomena ini merujuk pada hubungan satu arah di mana satu pihak (penggemar atau audiens) mencurahkan energi emosional, minat, dan waktu secara besar-besaran, sementara pihak lainnya (figur publik atau influencer) sama sekali tidak menyadari keberadaan individu tersebut.

Di era media sosial, hubungan ini menjadi lebih intens. Fitur-fitur seperti Live Streaming, Instagram Stories, dan kolom komentar menciptakan ilusi keintiman. Saat seorang influencer menatap kamera dan menyapa "Halo teman-teman," otak kita secara tidak sadar dapat memprosesnya sebagai interaksi tatap muka langsung, yang memicu produksi dopamin dan rasa kedekatan.


Bahaya Terlalu Terikat Secara Emosional dengan Influencer
Keterikatan emosional yang berlebihan pada sosok di dunia maya bukan tanpa risiko. Berikut adalah beberapa bahaya yang perlu diwaspadai:

1. Distorsi Realitas dan Ekspektasi yang Tidak Realistis
Influencer sering kali hanya menampilkan "potongan terbaik" dari hidup mereka. Ketika audiens merasa memiliki ikatan emosional yang kuat, mereka cenderung membandingkan kehidupan nyata mereka yang penuh lika-liku dengan kehidupan digital sang idola yang tampak sempurna. Hal ini memicu rasa rendah diri, ketidakpuasan terhadap hidup, dan standar kebahagiaan yang tidak realistis.

2. Kekecewaan Mendalam dan "Patah Hati" Digital
Karena hubungan ini satu arah, audiens sering kali membangun narasi ideal tentang kepribadian sang influencer. Namun, manusia tetaplah manusia yang bisa melakukan kesalahan. Ketika sang idola melakukan tindakan yang dianggap mengecewakan atau terlibat skandal, penggemar dengan hubungan parasosial yang kuat akan merasakan pengkhianatan yang nyata, serupa dengan rasa sakit hati saat putus cinta atau kehilangan teman dekat.

3. Pengabaian Hubungan di Dunia Nyata
Bahaya paling nyata adalah ketika waktu dan energi emosional yang seharusnya diberikan kepada keluarga, pasangan, atau teman di dunia nyata justru dialihkan sepenuhnya untuk memantau kehidupan influencer. Hubungan parasosial yang ekstrem dapat menyebabkan isolasi sosial, di mana seseorang merasa lebih nyaman "berinteraksi" dengan layar daripada membangun koneksi dua arah yang memerlukan usaha dan kompromi.

4. Eksploitasi Finansial
Banyak influencer memanfaatkan ikatan emosional ini untuk kepentingan komersial. Penggemar yang merasa "berteman" dengan sang influencer sering kali merasa wajib mendukung setiap produk yang dipromosikan, memberikan gift saat live streaming, atau membeli konten eksklusif demi merasa lebih dekat. Tanpa kontrol diri, hal ini dapat menyebabkan masalah finansial bagi audiens.


Mengapa Kita Terjebak dalam Hubungan Parasosial?
Psikolog berpendapat bahwa manusia secara alami diprogram untuk mencari koneksi. Di tengah meningkatnya angka kesepian di kota-kota besar, influencer mengisi kekosongan emosional tersebut. Mereka menjadi teman virtual yang selalu ada 24/7, tidak pernah menghakimi, dan selalu memberikan hiburan.

Bagi individu yang memiliki kecemasan sosial di dunia nyata, hubungan parasosial menawarkan "keamanan". Tidak ada risiko ditolak atau dikritik dalam hubungan satu arah ini. Namun, keamanan semu ini justru menghambat pertumbuhan keterampilan sosial yang diperlukan untuk berfungsi dalam masyarakat.


Cara Membangun Batasan yang Sehat di Dunia Digital
Menikmati konten seorang influencer tidak dilarang, namun menjaga jarak emosional adalah kunci keseimbangan mental. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil:
  1. Sadar akan Ilusi Keintiman: Ingatlah bahwa apa yang Anda lihat di layar adalah produk yang telah dikurasi. Influencer menjalankan bisnis, dan keramahan mereka adalah bagian dari personal branding.
  2. Batasi Durasi Konsumsi: Gunakan fitur pengingat waktu pada aplikasi media sosial untuk mencegah diri Anda terhanyut terlalu dalam mengikuti keseharian seseorang.
  3. Prioritaskan Hubungan Dua Arah: Investasikan kembali energi Anda untuk orang-orang yang benar-benar mengenal nama Anda dan hadir saat Anda membutuhkan bantuan nyata.
  4. Diversifikasi Minat: Jangan hanya bergantung pada satu sosok untuk mendapatkan inspirasi atau hiburan. Temukan hobi di dunia nyata yang melibatkan interaksi fisik.

Kesimpulan
Hubungan parasosial adalah bagian tak terpisahkan dari budaya digital modern. Dalam tingkat yang wajar, ia bisa menjadi sumber inspirasi dan hiburan. Namun, ketika garis antara dunia maya dan realitas mulai kabur, keterikatan ini bisa berubah menjadi beban psikologis yang merugikan.

Penting bagi kita untuk tetap menjadi konsumen konten yang cerdas dan sadar diri. Influencer favorit Anda mungkin merasa seperti teman, tetapi pada akhirnya, mereka adalah orang asing yang berbagi layar dengan jutaan orang lainnya. Dengan menjaga jarak yang sehat, kita tetap bisa menikmati konten digital tanpa harus kehilangan jati diri dan koneksi berharga di dunia nyata.