Pernahkah Anda merasa cemas saat melihat unggahan teman yang sedang berlibur, atau merasa tertinggal karena belum menonton serial yang sedang viral? Jika ya, Anda sedang mengalami FOMO (Fear of Missing Out). Di sisi lain, ada sebuah gerakan tandingan yang mulai populer dan menawarkan kedamaian, yaitu JOMO (Joy of Missing Out).
Memahami perbedaan antara keduanya bukan sekadar tentang tren media sosial, melainkan tentang bagaimana kita menjaga kesehatan mental di tengah banjir informasi yang tak henti-hentinya. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa kita terjebak dalam rasa takut akan ketertinggalan dan bagaimana beralih menuju kebahagiaan dalam kesendirian.
Mengenal FOMO: Si Pencuri Kebahagiaan Modern
Secara harfiah, FOMO adalah perasaan cemas yang muncul ketika seseorang merasa orang lain sedang mengalami pengalaman berharga, bersenang-senang, atau mencapai sesuatu yang tidak ia rasakan. Media sosial seperti Instagram dan TikTok bertindak sebagai katalisator utama fenomena ini.
Melalui layar ponsel, kita terus-menerus disuguhi "kumulasi momen terbaik" orang lain. Masalahnya, otak kita sering kali membandingkan realitas hidup kita yang penuh lika-liku dengan versi hidup orang lain yang sudah dipoles melalui filter. Perbandingan yang tidak adil ini menciptakan standar hidup yang tidak realistis, memicu stres, dan menurunkan rasa percaya diri.
Mengapa FOMO Begitu Kuat Memengaruhi Kita?
Akar dari FOMO sebenarnya bersifat biologis. Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan dasar untuk merasa "terhubung" dan menjadi bagian dari kelompok. Di masa lalu, tertinggal dari informasi kelompok bisa berarti ancaman bagi kelangsungan hidup.
Namun, di era digital, insting ini dimanfaatkan oleh algoritma. Notifikasi yang terus bermunculan menciptakan urgensi palsu. Kita merasa harus selalu up-to-date agar tidak dikucilkan dari percakapan sosial. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan untuk hadir sepenuhnya di momen saat ini karena pikiran kita selalu tertuju pada "apa yang terjadi di luar sana."
JOMO: Seni Merayakan Ketertinggalan
Sebagai antitesis dari FOMO, muncullah JOMO (Joy of Missing Out). JOMO bukan berarti Anda harus menjadi antisosial atau membuang semua perangkat elektronik. Sebaliknya, JOMO adalah tentang pilihan sadar untuk memprioritaskan apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri daripada mencoba mengikuti segalanya.
JOMO adalah rasa puas ketika Anda memilih untuk tinggal di rumah membaca buku daripada pergi ke pesta yang sebenarnya tidak ingin Anda datangi. Ini adalah kebahagiaan saat mematikan ponsel untuk menikmati makan malam yang tenang tanpa perlu memotretnya untuk dipamerkan. Dengan JOMO, Anda mengambil kembali kendali atas waktu dan perhatian Anda.
Strategi Transformasi dari FOMO Menuju JOMO
Beralih dari rasa takut menuju rasa syukur memerlukan latihan yang konsisten. Berikut adalah beberapa langkah strategis yang dapat Anda terapkan:
- Praktikkan Kurasi Digital secara Ketat Langkah pertama untuk mengurangi FOMO adalah dengan mengontrol apa yang masuk ke pikiran Anda. Unfollow atau mute akun-akun yang memicu rasa minder atau kecemburan. Isilah beranda Anda dengan konten yang menginspirasi, mengedukasi, atau membuat Anda merasa tenang. Ingat, Anda punya hak penuh atas apa yang Anda lihat di layar Anda.
- Tentukan Prioritas yang Jelas Ketidaktahuan kita akan tujuan hidup sering kali membuat kita mudah terombang-ambing oleh tren. Dengan menetapkan nilai-nilai inti dalam hidup—apakah itu keluarga, kesehatan, atau pengembangan karier—Anda akan lebih mudah berkata "tidak" pada hal-hal yang tidak selaras dengan tujuan tersebut tanpa merasa bersalah.
- Tetapkan Batas Waktu Layar (Screen Time) Teknologi harus menjadi alat, bukan majikan. Gunakan fitur pengingat pada ponsel untuk membatasi durasi penggunaan media sosial. Alokasikan waktu khusus "bebas gadget," misalnya satu jam sebelum tidur atau saat makan pagi. Ruang hampa tanpa gangguan digital inilah yang biasanya menjadi tempat lahirnya kreativitas dan ketenangan.
- Berlatih Mindfulness (Kesadaran Penuh) FOMO hidup di masa depan atau di kehidupan orang lain. Sebaliknya, ketenangan hidup di masa sekarang. Berlatihlah untuk menikmati apa yang ada di depan mata. Saat sedang minum kopi, rasakan aromanya dan kehangatannya tanpa harus memikirkan bagaimana cara mengunggahnya ke Story. Menghargai momen kecil adalah inti dari kebahagiaan JOMO.
Dampak Positif JOMO terhadap Kesehatan Mental
Ketika Anda mulai merangkul JOMO, Anda akan merasakan perubahan signifikan dalam kualitas hidup. Beberapa manfaat yang akan dirasakan antara lain:
- Peningkatan Fokus: Tanpa distraksi notifikasi yang konstan, Anda bisa bekerja atau belajar dengan lebih mendalam (deep work).
- Hubungan yang Lebih Berkualitas: Anda akan lebih hadir secara emosional saat berinteraksi dengan orang-orang tercinta di dunia nyata.
- Kualitas Tidur yang Lebih Baik: Mengurangi paparan blue light dan kecemasan sebelum tidur membantu tubuh beristirahat lebih optimal.
- Kesehatan Emosional: Berhenti membandingkan diri membuat Anda lebih mudah menerima dan mencintai diri sendiri apa adanya.
Kesimpulan
Pertarungan antara FOMO vs. JOMO sebenarnya adalah pertarungan tentang siapa yang memegang kendali atas perhatian Anda. FOMO membuat kita merasa kekurangan, sementara JOMO merayakan kecukupan. Di dunia yang terus-menerus menuntut perhatian kita, memilih untuk "tertinggal" dari kebisingan dunia luar adalah salah satu bentuk perawatan diri yang paling revolusioner.
Ketenangan sejati tidak ditemukan dengan mengetahui segala hal yang dilakukan orang lain, melainkan dengan memahami apa yang paling berarti bagi diri kita sendiri. Mari mulai menikmati "ketertinggalan" itu dan temukan kebahagiaan di dalamnya.
