Berapa Lama Proses Cuci Darah Berlangsung dan Mengapa Harus Rutin?


Bagi pasien yang baru saja didiagnosis dengan gagal ginjal kronis, jadwal cuci darah atau hemodialisis sering kali menjadi perubahan gaya hidup yang paling mencolok. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: "Mengapa harus menghabiskan waktu berjam-jam di rumah sakit?" dan "Apa yang terjadi jika saya melewatkan satu sesi saja?"

Memahami durasi dan alasan di balik rutinitas cuci darah sangat penting untuk menjaga semangat pasien dalam menjalani terapi. Mari kita bahas secara detail mengenai manajemen waktu dan urgensi medis di balik prosedur ini.

Berapa Lama Proses Cuci Darah Berlangsung?
Secara umum, satu sesi cuci darah (hemodialisis) standar memerlukan waktu antara 4 hingga 5 jam. Namun, jika kita menghitung waktu persiapan dan observasi pasca-tindakan, pasien mungkin perlu meluangkan waktu total sekitar 6 jam di unit hemodialisis.

Mengapa Harus 4 Sampai 5 Jam?
Banyak pasien berharap proses ini bisa dipercepat menjadi 1 atau 2 jam saja agar mereka bisa segera kembali beraktivitas. Namun, secara medis, durasi tersebut tidak dapat dipangkas sembarangan karena alasan berikut:
  • Keamanan Jantung: Mesin dialisis menarik darah dan cairan dari tubuh. Jika proses penarikan cairan dilakukan terlalu cepat, tekanan darah bisa turun secara drastis (hipotensi), yang menyebabkan pusing, mual, bahkan pingsan.
  • Efisiensi Penyaringan: Racun seperti ureum dan kreatinin tidak hanya berada di dalam darah, tetapi juga tersimpan di jaringan tubuh. Dibutuhkan waktu yang cukup agar racun dari jaringan "berpindah" ke darah untuk kemudian disaring oleh mesin.
  • Keseimbangan Elektrolit: Proses menyeimbangkan kadar kalium dan natrium dalam darah membutuhkan kecepatan aliran yang stabil agar tidak terjadi guncangan pada sistem saraf dan otot jantung.

Mengapa Cuci Darah Harus Dilakukan Secara Rutin?
Mayoritas pasien gagal ginjal kronis di Indonesia menjalani cuci darah sebanyak 2 kali seminggu, meskipun standar internasional (KDOQI) sering kali menyarankan 3 kali seminggu untuk hasil yang lebih optimal. Berikut adalah alasan medis mengapa rutinitas ini tidak boleh ditawar:

1. Mencegah Penumpukan "Sampah" Beracun
Ginjal orang sehat bekerja 24 jam sehari tanpa henti. Saat ginjal rusak, sampah sisa metabolisme (ureum) akan terus menumpuk di darah setiap menit setelah Anda makan protein. Jika cuci darah tidak rutin, kadar ureum akan meningkat sangat tinggi (uremia), yang dapat menyebabkan napas berbau amonia, gatal-gatal hebat, hingga kerusakan saraf otak.

2. Mengatur Keseimbangan Cairan (Mencegah "Tenggelam")
Tanpa fungsi ginjal, tubuh tidak bisa mengeluarkan kelebihan air melalui urine. Air tersebut akan menetap di dalam tubuh, masuk ke jaringan kulit (bengkak), dan yang paling berbahaya, masuk ke paru-paru. Pasien yang melewatkan jadwal cuci darah sering kali datang ke unit gawat darurat dengan kondisi sesak napas berat karena paru-parunya terendam cairan.

3. Mengontrol Kadar Kalium yang Mematikan
Kalium berasal dari makanan seperti buah dan sayur. Dalam kadar normal, kalium menjaga fungsi otot. Namun, jika ginjal gagal membuangnya, kalium akan menumpuk (hiperkalemia). Kadar kalium yang terlalu tinggi bertindak seperti racun bagi jantung yang dapat menyebabkan henti jantung mendadak tanpa gejala peringatan sebelumnya.


Apa yang Terjadi Jika Pasien Melewatkan Sesi Cuci Darah?
Melewatkan satu sesi cuci darah mungkin tidak langsung terasa fatal pada jam-jam pertama, namun efeknya akan terakumulasi dengan cepat:
  • Beban Jantung Meningkat: Jantung harus bekerja ekstra keras memompa darah yang volumenya bertambah akibat tumpukan cairan. Ini bisa memicu pembengkakan jantung (kardiomegali).
  • Kualitas Hidup Menurun: Pasien akan merasa sangat lemas, mual, nafsu makan hilang, dan sulit tidur akibat penumpukan racun.
  • Risiko Kematian Mendadak: Sebagian besar kasus kematian pada pasien gagal ginjal terjadi karena komplikasi akibat kelebihan cairan atau serangan jantung akibat lonjakan kalium di antara jadwal cuci darah.


Tips Menjalani Rutinitas Cuci Darah Tanpa Merasa Terbebani
Menjalani cuci darah rutin memang membutuhkan komitmen waktu yang besar. Berikut beberapa tips agar pasien tetap merasa nyaman:
  • Manfaatkan Waktu di Mesin: Gunakan waktu 4-5 jam untuk aktivitas yang menyenangkan atau produktif, seperti membaca buku, menonton film, mendengarkan musik, atau beristirahat (tidur).
  • Atur Jadwal yang Konsisten: Pilihlah shift cuci darah yang paling sesuai dengan aktivitas harian (pagi atau sore) agar tidak mengganggu rutinitas kerja atau keluarga.
  • Jaga Asupan Cairan: Semakin sedikit berat badan Anda naik di antara jadwal cuci darah, semakin nyaman proses cuci darahnya. Penarikan cairan yang sedikit membuat tubuh tidak terasa lemas setelah sesi berakhir.

Kesimpulan
Durasi 4-5 jam dan frekuensi rutin 2-3 kali seminggu bukanlah angka sembarangan. Itu adalah standar medis untuk memastikan tubuh tetap bersih dari racun dan seimbang secara cairan. Dengan menjalani rutinitas ini secara disiplin, pasien gagal ginjal tetap dapat memiliki harapan hidup yang panjang dan kualitas hidup yang produktif.

Ingatlah bahwa mesin cuci darah adalah sahabat bagi tubuh Anda, yang melakukan tugas mulia menggantikan organ yang sedang beristirahat.