Cyberloafing: Apakah Menunda Kerja dengan Scrolling Benar-benar Menghilangkan Stres?


Di era bekerja dari mana saja (work from anywhere), batasan antara profesionalisme dan hiburan pribadi menjadi semakin kabur. Pernahkah Anda sedang dikejar tenggat waktu, namun jari Anda seolah bergerak otomatis membuka Instagram atau TikTok? Fenomena ini dikenal dalam dunia psikologi industri sebagai cyberloafing.

Secara definisi, cyberloafing adalah perilaku karyawan yang menggunakan akses internet kantor atau perangkat kerja untuk urusan pribadi selama jam kerja. Mulai dari membalas pesan WhatsApp, belanja online, hingga scrolling media sosial tanpa henti. Banyak yang berdalih bahwa ini adalah cara "istirahat sejenak" untuk melepas penat, namun apakah aktivitas ini benar-benar efektif menghilangkan stres, atau justru menjadi bom waktu bagi produktivitas kita?

Mengapa Kita Melakukan Cyberloafing?
Latar belakang seseorang melakukan cyberloafing sangatlah kompleks. Sebagian besar orang melakukannya bukan karena malas, melainkan sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap tekanan kerja. Ketika otak merasa kewalahan dengan tugas yang sulit, secara insting kita mencari "hadiah instan" atau dopamin untuk menyeimbangkan perasaan tidak nyaman tersebut.

Media sosial dirancang dengan algoritma yang memberikan kepuasan instan. Setiap scroll memberikan stimulus visual baru yang menarik, yang secara sementara mengalihkan pikiran dari beban kerja. Namun, yang sering tidak disadari adalah bahwa pengalihan ini bersifat superfisial. Kita tidak benar-benar beristirahat; kita hanya sedang menunda stres yang nantinya akan kembali dengan intensitas yang lebih besar karena waktu kerja yang berkurang.


Hubungan Antara Cyberloafing dan Tingkat Stres
Banyak orang percaya bahwa scrolling selama lima menit akan menyegarkan pikiran. Namun, penelitian menunjukkan hasil yang kontradiktif. Ada dua sisi koin dalam fenomena ini:
  1. Sisi Positif: Mikro-Istirahat (Micro-breaks) Dalam dosis kecil, cyberloafing bisa berfungsi sebagai interupsi mental yang diperlukan. Jika dilakukan secara sadar dan terbatas, membuka situs hiburan dapat membantu menurunkan kelelahan kognitif. Ini disebut sebagai pemulihan psikologis singkat yang memungkinkan otak untuk berhenti sejenak dari fokus yang terlalu tajam.
  2. Sisi Negatif: Kelelahan Digital dan Rasa Bersalah Masalah muncul ketika lima menit berubah menjadi satu jam. Ketika cyberloafing dilakukan secara berlebihan, hal ini justru memicu technostress. Alih-alih merasa segar, otak justru terpapar banjir informasi (information overload). Selain itu, munculnya rasa bersalah karena telah membuang waktu sering kali meningkatkan kecemasan saat kita kembali menatap layar kerja. Tugas yang tadinya menumpuk kini memiliki waktu pengerjaan yang lebih sempit, memicu lonjakan kortisol (hormon stres).

Paradox Produktivitas di Era Digital
Paradoks dari cyberloafing adalah semakin kita mencoba melarikan diri dari stres kerja melalui internet, semakin tinggi tingkat stres yang kita akumulasikan di akhir hari. Media sosial sering kali menampilkan kehidupan orang lain yang tampak lebih santai atau sukses, yang secara bawah sadar memicu perbandingan sosial (social comparison). Bukannya merasa rileks, kita justru merasa tertinggal atau merasa hidup kita membosankan dibandingkan konten yang kita lihat.

Selain itu, scrolling memerlukan keterlibatan aktif dari mata dan otak kita untuk memproses informasi visual dan teks. Ini sangat berbeda dengan istirahat sejati seperti berjalan kaki, melakukan peregangan, atau bermeditasi, di mana otak benar-benar masuk ke mode istirahat (default mode network).


Cara Mengatasi Cyberloafing yang Merusak
Jika Anda merasa terjebak dalam siklus scrolling yang merusak produktivitas, langkah pertama bukanlah memutus akses internet secara total, melainkan membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan:
  1. Terapkan Teknik Pomodoro: Gunakan timer untuk bekerja selama 25 menit, diikuti dengan istirahat 5 menit. Di masa istirahat ini, cobalah untuk menjauh dari layar ponsel. Gunakan waktu tersebut untuk minum air atau melihat pemandangan di luar jendela.
  2. Audit Digital: Perhatikan aplikasi apa yang paling sering menyedot waktu Anda saat bekerja. Gunakan fitur Screen Time untuk membatasi akses ke aplikasi tersebut selama jam kantor.
  3. Identifikasi Pemicu (Triggers): Apakah Anda scrolling karena bosan, atau karena takut menghadapi tugas yang sulit? Jika karena takut, pecahlah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikerjakan.
  4. Ciptakan Istirahat Berkualitas: Alih-alih cyberloafing, pilihlah aktivitas yang benar-benar memulihkan energi. Mendengarkan musik tanpa melihat layar atau melakukan pernapasan dalam jauh lebih efektif menurunkan detak jantung dan stres daripada melihat feed berita yang penuh konflik.

Menuju Keseimbangan Kerja yang Sehat
Perlu ditekankan bahwa cyberloafing adalah hal yang manusiawi. Kita bukan robot yang bisa fokus 100% selama delapan jam penuh. Namun, kuncinya adalah kendali. Jika internet mengendalikan waktu Anda, maka stres akan menjadi teman setia Anda. Namun, jika Anda menggunakan internet sebagai alat pendukung yang terkontrol, Anda bisa menjaga keseimbangan antara performa dan kesehatan mental.

Menunda kerja dengan scrolling mungkin memberikan kelegaan selama beberapa menit, tetapi penyelesaian tugas dan pencapaian targetlah yang memberikan kepuasan jangka panjang dan menghilangkan stres secara tuntas. Mulailah menghargai waktu Anda, karena setiap menit yang Anda habiskan untuk scrolling tanpa tujuan adalah menit yang Anda curi dari waktu istirahat sejati Anda di malam hari.