Mengenal Perbedaan Hemodialisis dan CAPD (Cuci Darah Lewat Perut)


Ketika seseorang didiagnosis menderita gagal ginjal kronis stadium akhir, dokter biasanya akan menyarankan terapi pengganti ginjal. Di Indonesia, ada dua metode yang paling populer digunakan: Hemodialisis (HD) dan CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) atau yang akrab disebut cuci darah lewat perut.

Memilih di antara keduanya sering kali membuat pasien bingung. Mana yang lebih efektif? Mana yang lebih nyaman? Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing metode agar Anda dapat mengambil keputusan yang tepat.

1. Hemodialisis (HD): Cuci Darah dengan Mesin
Hemodialisis adalah metode yang paling dikenal luas. Proses ini menggunakan mesin khusus dan ginjal buatan (dializer) untuk menyaring limbah dari darah di luar tubuh.
Cara Kerja Hemodialisis

Pasien harus datang ke rumah sakit atau klinik hemodialisis. Darah akan ditarik dari tubuh melalui akses vaskular (biasanya di lengan yang disebut Cimino), dialirkan ke mesin untuk dibersihkan, lalu dikembalikan lagi ke dalam tubuh.
  • Frekuensi: Umumnya dilakukan 2 hingga 3 kali seminggu.
  • Durasi: Setiap sesi memakan waktu sekitar 4 hingga 5 jam.
  • Tenaga Medis: Proses ini dilakukan dan diawasi sepenuhnya oleh perawat atau tenaga medis profesional.

Kelebihan Hemodialisis:
  • Pasien tidak perlu melakukan prosedur sendiri (semuanya dikerjakan perawat).
  • Bisa bersosialisasi dengan sesama pasien di unit HD.
  • Ada pengawasan medis langsung jika terjadi kondisi darurat saat cuci darah.

Kekurangan Hemodialisis:
  • Jadwal yang kaku (harus datang ke RS sesuai jadwal).
  • Efek samping seperti lemas, pusing, atau kram otot setelah sesi akibat perubahan cairan yang cepat.
  • Diet dan pembatasan asupan air yang cenderung lebih ketat.

2. CAPD: Cuci Darah Mandiri Lewat Perut
CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) adalah metode cuci darah yang menggunakan lapisan dalam perut pasien sendiri (peritoneum) sebagai penyaring alami.


Cara Kerja CAPD
Berbeda dengan HD, CAPD tidak menggunakan mesin besar. Pasien akan menjalani operasi kecil untuk pemasangan kateter di perut. Melalui kateter ini, cairan pembersih (dialisat) dimasukkan ke dalam rongga perut. Cairan ini akan "mendiamkan" racun di perut selama beberapa jam sebelum akhirnya dikeluarkan dan diganti dengan cairan baru.
  • Frekuensi: Dilakukan setiap hari, biasanya 3 hingga 4 kali sehari (proses penggantian cairan).
  • Lokasi: Bisa dilakukan di mana saja: rumah, kantor, atau tempat yang bersih.
  • Tenaga Medis: Dilakukan secara mandiri oleh pasien atau keluarga setelah mendapat pelatihan.
Kelebihan CAPD:
  • Fleksibilitas Tinggi: Pasien tetap bisa bekerja, belajar, atau bepergian karena tidak perlu ke RS setiap minggu.
  • Lebih Stabil: Karena dilakukan setiap hari, pembersihan racun terjadi terus-menerus (lebih mirip kerja ginjal asli), sehingga tubuh tidak cepat merasa lemas.
  • Diet Lebih Longgar: Pembatasan cairan biasanya tidak seberat pasien HD.

Kekurangan CAPD:
Risiko infeksi perut (peritonitis) jika kebersihan saat mengganti cairan tidak terjaga.
Pasien harus disiplin melakukan penggantian cairan setiap hari tanpa absen.
Adanya kateter permanen yang terpasang di area perut.


Tabel Perbandingan: HD vs CAPD


Mana yang Lebih Baik untuk Anda?
Tidak ada satu metode yang mutlak "lebih baik" daripada yang lain. Pilihan biasanya bergantung pada gaya hidup dan kondisi medis pasien:
  • Pilihlah Hemodialisis jika: Anda merasa tidak mampu melakukan prosedur secara mandiri, takut akan risiko infeksi di rumah, atau menyukai interaksi sosial di rumah sakit.
  • Pilihlah CAPD jika: Anda memiliki mobilitas tinggi, ingin tetap bekerja/sekolah, tinggal jauh dari fasilitas kesehatan, atau menginginkan diet yang lebih bebas.

Kesimpulan
Baik Hemodialisis maupun CAPD bertujuan sama, yaitu memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien gagal ginjal. Kunci utamanya bukan pada jenis metodenya, melainkan pada kepatuhan pasien dalam menjalani terapi dan menjaga pola hidup sehat.

Penting untuk mendiskusikan hal ini dengan dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi (Sp.PD-KGH) untuk melihat kondisi fisik Anda sebelum menentukan pilihan.