Bagi pasien yang didiagnosis menderita gagal ginjal kronis stadium akhir, istilah "cuci darah" atau hemodialisis mungkin terdengar menakutkan. Ketakutan ini sering kali bersumber dari ketidaktahuan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruang dialisis.
Sebenarnya, cuci darah adalah prosedur medis yang sangat terorganisir dan bertujuan untuk membersihkan darah dari limbah beracun yang tidak lagi bisa dibuang oleh ginjal. Artikel ini akan membahas secara mendalam proses cuci darah tahap demi tahap agar Anda atau orang terkasih dapat menjalaninya dengan lebih tenang.
Persiapan Sebelum Proses Dimulai
Sebelum prosedur pertama dilakukan, pasien harus memiliki akses vaskular. Ini adalah "pintu masuk" agar darah bisa keluar dari tubuh menuju mesin dan kembali lagi dengan aman. Ada tiga jenis akses utama:
- AV Fistula (Cimino): Penyambungan pembuluh darah arteri dan vena (pilihan terbaik untuk jangka panjang).
- AV Graft: Penggunaan tabung sintetis untuk menghubungkan arteri dan vena.
- Kateter (CDL): Tabung plastik yang dipasang di leher atau dada (biasanya untuk keadaan darurat atau jangka pendek).
Tahap 1: Persiapan dan Pemeriksaan Awal
Setiap sesi cuci darah dimulai dengan prosedur pemeriksaan standar. Perawat akan melakukan hal-hal berikut:
- Menimbang Berat Badan: Hal ini dilakukan untuk menentukan seberapa banyak kelebihan cairan yang harus ditarik dari tubuh selama proses berlangsung. Berat badan yang naik drastis di antara sesi menunjukkan penumpukan cairan yang tinggi.
- Pemeriksaan Tanda Vital: Tekanan darah, suhu tubuh, dan denyut nadi diperiksa secara teliti.
- Sterilisasi Akses: Area akses vaskular akan dibersihkan dengan antiseptik untuk mencegah infeksi.
Tahap 2: Menghubungkan ke Mesin Dialisis
Setelah persiapan selesai, perawat akan memasukkan dua jarum ke dalam akses vaskular (jika menggunakan fistula atau graft).
- Jarum Pertama (Arteri): Mengambil darah dari tubuh untuk dibawa ke mesin.
- Jarum Kedua (Vena): Mengembalikan darah yang sudah bersih ke dalam tubuh.
Momen ini mungkin terasa sedikit sakit seperti cubitan kecil, namun rasa sakit tersebut biasanya akan hilang setelah jarum terpasang dengan benar.
Tahap 3: Proses Pembersihan (Di dalam Dializer)
Inilah inti dari cuci darah. Darah Anda tidak benar-benar masuk ke dalam mesin besar yang Anda lihat, melainkan dialirkan ke dalam alat bernama dializer (ginjal buatan). Dializer adalah tabung plastik berisi ribuan serat halus yang berfungsi sebagai penyaring.
Di dalam dializer, terjadi dua proses utama:
- Difusi: Racun seperti ureum dan kreatinin berpindah dari darah ke cairan pembersih (dialisat) karena perbedaan konsentrasi.
- Ultrafiltrasi: Tekanan diatur sedemikian rupa sehingga kelebihan air dalam darah "diperas" keluar melalui membran penyaring.
Selama proses ini, darah Anda terus berputar. Biasanya, seluruh volume darah dalam tubuh akan melewati mesin berkali-kali dalam satu sesi selama 4 hingga 5 jam.
Tahap 4: Pemantauan Selama Sesi
Selama 4-5 jam tersebut, Anda akan duduk atau berbaring di tempat tidur khusus. Mesin dialisis dilengkapi dengan sensor canggih untuk memantau tekanan darah dan aliran darah.
Apa yang mungkin Anda rasakan?
- Kram Otot: Sering terjadi jika cairan ditarik terlalu cepat.
- Pusing atau Mual: Akibat penurunan tekanan darah (hipotensi).
- Kedinginan: Karena darah mendingin sedikit saat berada di luar tubuh.
Jika Anda merasakan gejala tersebut, segera lapor ke perawat. Mereka dapat mengatur kecepatan mesin atau memberikan cairan saline untuk menstabilkan kondisi Anda.
Tahap 5: Pengembalian Darah dan Selesai
Setelah waktu yang ditentukan habis, mesin akan berhenti menarik darah. Darah yang masih berada di dalam selang dialisis akan dibilas dengan cairan garam steril (saline) untuk memastikan semua darah kembali ke dalam tubuh Anda.
Jarum kemudian dicabut, dan area bekas suntikan akan ditekan selama beberapa menit hingga perdarahan berhenti, lalu ditutup dengan perban.
Apa yang Terjadi pada Tubuh Setelah Cuci Darah?
Setelah prosedur selesai, banyak pasien merasa lelah atau "lemas" (sering disebut washout effect). Hal ini wajar karena tubuh baru saja mengalami perubahan komposisi cairan dan kimiawi secara drastis dalam waktu singkat.
Namun, di sisi lain, banyak pasien merasa napasnya lebih ringan (karena cairan di paru-paru berkurang) dan rasa gatal atau mual akibat racun perlahan menghilang.
Mitos: Apakah Darah Saya Bisa Tertukar?
Satu mitos yang sering menghantui adalah ketakutan darah tertukar dengan pasien lain. Faktanya, hal ini hampir mustahil terjadi. Setiap pasien menggunakan set selang (bloodline) dan dializer yang baru (disposable) atau dializer yang telah dilabeli nama secara ketat jika menggunakan sistem re-use sesuai standar medis. Mesin pun selalu dibersihkan dengan disinfektan kimia di antara jadwal pasien.
Kesimpulan
Proses cuci darah adalah prosedur yang sangat teknis namun bertujuan mulia: memberi kesempatan bagi tubuh untuk tetap berfungsi meskipun ginjal sudah tidak bekerja. Dengan memahami setiap tahapannya, diharapkan kecemasan pasien dapat berkurang dan mereka bisa menjalani terapi dengan lebih optimis.
Kepatuhan terhadap jadwal cuci darah dan pengaturan pola makan adalah kunci utama agar proses ini memberikan hasil maksimal bagi kesehatan Anda.
